Skip to main content

Resensi Novel Divortiare




Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama
Penulis                 : Ika Natassa
Cetakan pertama : 2008
Halaman              : 328

Sinopsis
Divortiare dibuka dengan cerita Alexandra Rhea -tokoh sentral novel ini sebagai aku- yang merupakan wanita karir sebagai relationship manager sebuah bank ternama di Jakarta, Alex – begitu ia disapa- baru baru saja pulang dari business trip ke daerah mengunjungi lokasi bisnis salah nasabah perusahaannya.Dalam perjalannanya pulang ke apartemennya ia menelpon Beno Wicaksono, dokter pribadinya, yang juga adalah mantan suaminya sejak dua tahun yang lalu. Alex meminta Beno yang bertugas di sebuah rumah sakit datang ke tempatnya karena ia merasa tidak enak badan semenjak dari tugasnya ke daerah.



Begitulah novel ini dibuka. Langsung memberikan clue kepada pembaca mengenai konflik yang akan terjadi dalam novel ini yaitu seputar hubungan Alex dan Beno pasca mereka berpisah. Cerita berlanjut, alex menceritakan bagaimana perjumpaannya dengan Beno disebuah konser musik di Jakarta 4 tahun yang lalu. Sejak saat itu hubungan mereka semakain dekat kemudian dalam waktu singkat kurang dari setahun mereka memutuskan untuk berumah tangga. Hidup bahagia sebagai suami istri hanya mereka rasakan di awal tahun pertama mereka berumah tangga. Mendekati setahun mereka menikah, mulai tumbuh benih-benih percekcokan pada hubungan mereka. Watak Alex dan Beno yang sama kerasa kepala membuat konflik antar mereka semakin meruncing tanpa ada jalan peyelesaian. Klimaksnya saat malam satu tahun wedding anniversary pernikahan mereka, Beno terlambat pulang kerumah karena padatnya pekerjaannya sebagai dakter bedah senior di rumah sakit. Hal ini tak dapat diterima Alex yang sudah menyiapkan acara spesial dan membuat pertikaian antar mereka semakin meruncing dan berujung pada permintaan Alex untuk berpisah. Begitulah cerita mengenai perceraian Alex dan Beno yang menjadi latar belakang novel ini. Namun konflik di novel ini berpusat pada perjalanan hidup Alex sesudah rumah tangganya bubar. Alex yang sudah ‘terlepas’ dari ikatan pernikahan dengan Beno, ternyata tidak bisa benar-benar melepaskan Beno dari pikirannya. Alex juga masih sangat tergantung dengan Beno untuk urusan kesehatannya sebagai dokter pribadinya. Dan sebuah tattoo di dada kirinya, yang ia buat ketika mereka bulan madu di Bali selalu mengingatkan Alex tentang masa-masa pernikahannya. Sebuah tattoo bertuliskan nama mantan suaminya, Beno.

Dalam proses ‘move on‘ tersebut, Alex dipertemukan kembali dengan teman lama semasa kuliah, Denny. Pertemuan yang diatur oleh Wina, sahabat dekatnya. Denny pelan-pelan mulai mendekati Alex dan membuat Alex kembali percaya cinta. Sampai akhirnya mereka jadian, dan memutuskan untuk menikah. Denny yang ditawarkan mutasi ke New York oleh kantornya, ‘memaksa’ Alex agar segera meresmikan pernikahan mereka dan ikut pindah ke New York. Namun, pernikahan tersebut tidak benar-benar terjadi. Karena, di satu malam, Alex akhirnya tersadarkan pada satu fakta, bahwa ia tidak pernah berhenti mencintai Beno, mantan suaminya. Ditambah lagi seringkali ia salah mengucap nama Beno saat ia bersama Denny. 

Penilaian
Novel romance kontemporer memang bukan bacaan favorit saya. Saya tidak ingat kapan terakhir kali membaca novel romance kontemporer sebelum Divortiare ini, mungkin sudah lebih setahun yang lalu. Memang tidak ada buku untuk semua orang. Serupa juga musik, novel juga memiliki banyak genre yang masing-masing pembaca pasti memiliki genre kesukaanya. Yang membuat saya membaca Divortiare sampai selesai mungkin adalah karena kepintaran Ika Natassa memainkan alur dan menempatkan konflik disepanjang cerita. Meskipun dari tema cerita tidak ada yang istimewa: ketidaksanggupan untuk move on dari hubungan yang sudah berakhir yang mungkin banyak dialami orang-orang zaman sekarang, namun penyajiannya dengan bahasa ‘gaul’ sehari-hari atau ‘ringan’ yang membuat saya mudah menangkap alur cerita dan konflik yang terjadi. Hal tersebut yang membuat saya ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya dan sampai saya menamatkan novel ini, meskipun pada akhirnya belum ada penyelesain konflik alias digantung karena memang novel ini ada kelanjutannya yaitu Trivortiare. 

Meskipun yang menjadi tokoh sentral novel ini adalah si Alex, namun seiring berlanjutnya cerita Divortiare ini saya justru lebih terbawa perasaan apa yang dirasakan Denny. Orang yang mulai dekat dengan Alex yang kemudian menjadi kekasihnya tetapi Alex merasa belum yakin dengan Denny, sampai beberapa kali Alex salah mengucap nama Beno didepan Denny. Namun meski begitu, Denny yang juga menyadari Alex yang masih belum move on dari Beno berusaha untuk menunjukkan cintanya setulus mungkin dan berusaha membahagiakan Alex. Bahasa sekarangnya mah: trying too hard. Saya pribadi merasa kasihan sama Denny (Baper), sampai eneg, mungkin karena pernah mengalaminya #eh_curcol. 

Satu hal yang tidak saya suka dari gaya bahasanya adalah terlalu banyak memakai bahasa inggris alias campur aduk. Bukannya nggak ngerti, tapi malah membuat keseriusan cerita berkurang, tapi lagi-lagi ini soal selera.
Terakhir saya kasih nilai 2/5 untuk Divortiare. Maaf Ika Natassa.

Comments

Popular posts from this blog

Cantik Itu Luka: Sebuah Sindiran Sosial Berbalut Realisme Magis

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Penulis: Eka Kurniawan Cetakan pertama : 2004 (Telah diterbitkan sebelumnya oleh AKY Press pada 2002) Cetakan 19: 2016 Halaman: 479 Penghargaan: World Readers’ Award 2016 (Winner) Publishers Weekly’s Best Books of 2015 The New York Times’ 100 Notable Books of 2015 The Financial Times’ Best Books of 2015 Kirkus Review’s Best Fiction Books of 2015 Flavorwire’s The Best Fiction 2015 The Boston Globe’s The Best Books of 2015 Harper’s Bazaar’s 15 Best Books of 2015 Commonwealth Magazine’s Best Books of 2015
Novel ini merupakannovel debut Eka Kurniawan yang langsung melambungkan namanya dan masuk dalam sorotan kesusastraan dunia, terbukti dengan diberikannya penghargaan oleh World Readers Award 2016 di Hongkong, bersamaan dengan masuknnya Eka ke dalam daftar panjang (longlisted) The Man Booker International Prize 2016, sebuah penghargaan dunia sastra tingkat internasional yang bergengsi dan prestisius, setingkat di bawah Nobel, atas novelnya yang kedua, Lel…

Kiat Sukses Memahami ‘Kiat Sukses Hancur Lebur’

"pada akhirnya, mau lele atau ayam atau tempe atau soto, semuanya sama saja: meledak di jamban." (Bab VI: Arahan Seputar Budi Daya Lele, h. 154)


Pada awal abad XX, ditengah berkecamuknya perang dunia I (1914-1918) di Eropa tumbuh suatu gerakan kebudayaan yang diprakarsai oleh para seniman dan budayawan guna menunjukkan sikap netralitas dan tak mau terlibat dalam suasana perang yang semakin berkecamuk dan mengerikan. Sebuah bar di swiss, Cabaret Voltaire, menjadi tempat berkumpul para budayawan dan seniman yang menggagas gerakan ini. Mereka menyebut gerakan yang mereka jalani dengan kata Dada, yang kemudian dikenal sebagai Dadaisme. Sikap perlawanan mereka bertujuan untuk tidak memihak atas seni dan budaya yang mulai dikotomis akibat perang karena kepentingan politik. Mereka tidak mau terikat dalam batas-batas apa yang diterima sebagai norma dalam suatu seni dan kebudayaan.Awalnya gerakan ini meliputi seni lukis dan visual, kemudian meluas ke ranah kebudayaan lainnya, yaitu sa…