Oleh: NIRWAN DEWANTO Kompas, 15 Desember 2018 Tanpa kecuali, semua orang hidup di dalam ranah kebudayaan, yaitu tatanan nilai dan perilaku yang kita warisi dan kita wariskan melalui—terutama—pengasuhan dan pendidikan. Namun, kita tidak hanya hidup bertindak di dalamnya, tetapi juga memperbincangkannya, mempertengkarkannya, berebut tentang apa yang benar tentangnya, terutama apabila kita berurusan tentang identitas, ”jati diri”, sesuatu yang kita percayai dapat membuat kita tidak hilang lenyap di tengah samudra perubahan. Di lingkup pewacanaan tentang ”kebudayaan” ini, kita dapat mengancang adanya tiga golongan besar: yaitu kaum apologis, kaum kritis, dan kaum skeptis. Kaum apologis mengatakan bahwa kebudayaan kita (kebudayaan nasional dan kebudayaan daerah, misalnya) tidak bisa keliru. Apabila kebudayaan kita berubah (katakanlah karena desakan kapital dan teknologi yang mendunia), yang berubah hanya kulit-kulitnya belaka, sementara inti-intinya bertahan tetap. K...