Skip to main content

Aku Ingin Membuat Jalan

Jalan adalah tempat kau menguji keberuntungan dengan menyeberanginya.
Tapi aku lebih suka menyusurinya. Berjalan di tepi-tepi demi banyak kemungkinan
yang bersembunyi di setiap lekuknya.

Aku telah menapaki semua jalan yang pernah dan akan dibuat. Dan aku
tak pernah lelah. Jalan setapak, jalan raya, hingga jalan ke angkasa.
Dari jalan paling luas menuju istana negara, hingga jalan paling sempit
menuju rumah ibadah.

Aku terlahir tak bersepatu dan besar menjadi pejalan kaki.
Kau pernah ingin menjadi sepatu bagiku. Kubilang, “Tak perlu.
Itu hanya membuatmu menderita“. Kau diam. Lalu kau berubah
menjadi lukisan yang dipajang ibumu di rumah.
Tiba-tiba aku merasa gundah.

Tak ada jalan yang betul-betul lurus. Tidak juga jalan
ke tempat kau belajar mengaji. Telapak kakiku telah mendengarkan
semua cerita yang kau simpan di dalam badan jalan.

Ibuku hanya mengajarkanku cara berjalan, tapi kau
menyuruhku berlari. Maka aku akan menyelinap ke dalam
mimpimu sebagai ingatan yang menyuruhmu menangisi masa lalu.

Dalam usahaku menemukan jalan ke rumahmu, aku terus
membakar ingatan masa lalu dengan bara api dalam keningmu.
Aku ingin berjalan dengan sebelah kaki milikku, dan sebelah kakimu
yang lain. Aku ingin bercakap-cakap dengan ayahmu tentang cara berjalan yang baik.

Aku sudah menghabiskan seluruh usia berjalan
dengan membawa asa. Bila jalan ini tak menuju ke rumahmu,
aku ingin membuat jalan yang lain.

2017

Comments

Popular posts from this blog

Daftar Penerima Penghargaan Sastra: Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2001-2018

Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) adalah sebuah ajang penghargaan bagi dunia kesusastraan Indonesia yang didirikan oleh Richard Oh dan Takeshi Ichiki dan mulai dilaksanakan sejak tahun 2001. Acara ini, sebelumnya bernama Khatulistiwa Literary Award, namun berganti nama sejak tahun 2014. Pemenang KSK didasarkan pada buku kiriman peserta yang diseleksi secara ketat oleh para dewan juri. Penghargaan bagi insan dunia sastra nasional ini bisa dibilang sebagai acuan pencapaian kesusastraan nasional pada tahun tersebut dan merupakan salah satu ajang penghargaan sastra paling prestisius di negeri ini.  Sebagai pembaca, seringkali saya menjadikan karya-karya yang termasuk ke dalam nominasi, baik shortlist maupun longlist, sebagai ajuan karya-karya bermutu yang wajib dibaca. Meskipun kadang-kadang karya yang masuk nominasi sebuah penghargaan sastra, belum tentu best seller atau sukses dipasaran. Begitu juga dengan label bestseller pada halaman muka sebuah buku, tidak menjamin b...

Hegemoni Puisi Liris

(disampaikan dalam diskusi online @biblioforum) Secara sederhana puisi liris adalah gaya puitis yang menekankan pengungkapkan perasaan melalui kata-kata, dengan rima dan tata bahasa teratur yang terkadang menyerupai nyanyian. Subjektifitas penyair sangat menonjol dalam melihat suatu objek atau fenomena yang dilihatnya. Penyair liris menyajikan persepsi tentang realitas, meninggalkan ke samping objektivitas dan menonjolkan refleksi perasaannya atas suatu gejala atau fenomena. Secara umum, perkembangan puisi liris adalah anak kandung dari kelahiran gerakan romantisisme pada seni pada awal akhir abad ke-18. Romantisisme lahir sebagai respon atas rasionalisme dan revolusi industri yang mulai mendominasi pada masa itu. Kala itu aliran seni lebih bercorak renaisans yang lebih menekankan melihat realita secara objektif. Lirisme dalam puisi lahir sebagai akibat dari berkembangnya gerakan romantisisme yang menekankan glorifikasi atas kenangan indah masa lalu atau tentang alam ...

Manajemen Belok Kanan

(sumber: alamy.com) Oleh : B Herry Priyono Beberapa waktu lalu saya bersama seorang teman lewat satu lokasi jalan di Jakarta Pusat. Di pinggir jalan itu terpampang spanduk besar dengan tulisan "Komunis Datang, Kami Siap Menyerang!" Ketika ia membuat saya menengok ke tulisan itu, saya tidak tahan untuk tidak tertawa geli lalu bilang, "Itulah paranoia hari-hari ini, bukan cuma basi, tapi juga buang-buang energi." Gejala paranoia biasanya terungkap dalam tindakan aneh-aneh ketidakwarasan mental, ditandai oleh delusi tentang bahaya rekaan yang memburu. Maka, orang-orang yang mengidap paranoia ibarat melihat anak kucing sebagai harimau pemangsa. Ketika diberi tahu, bahkan oleh para ahli, bahwa itu anak kucing yang tak berdaya, penderita paranoia justru makin meneriakkan ancaman harimau pemangsa. Itulah mengapa menganggap serius penderita paranoia sungguh buang-buang usia. Masalahnya, paranoia sering menjadi bagian taktik propaganda, dengan hasil terbelahnya k...