Skip to main content

Karimunjawa: A Little Paradise at The Northern of Java


Sekitar jam 7 pagi kami sampai di Pelabuhan Pantai Kartini Kota Jepara. Turun dari Bis Shantika yang telah mengantar kami dari Bandung sejak kemaren jam 4 sore. Walau kondisi bis executive AC ini sangat baik dengan kursi yang empuk lengkap dengan bantal kecil dan selimutnya, tetap saja perjalanan sekitar 12 jam tersebut membuat badan remuk dan pegal. Tapi itu hanya sesaat. Saat saya berjalan memasuki pelabuhan dan melihat KMP Siginjai yang telah bersandar dan siap mengantar kami ke Kepulauan Karimun, semua rasa pegal tersebut hilang. Walaupun belum sampai di Kepulauan Karimun Jawa, tapi aromanya telah memanjakan hidung saya (alaah). Tanpa banyak cincong kami langsung menuju loket penjualan tiket. Tapi alangkah malangnya nasib kami, ternyata keberangkatan hari itu ditunda sampai besok dikarenakan ombak yangbesar.


Akhirnya kami harus menginap di Pantai Kartini, banyak penginapan disini. Karena banyak wisatawan yang menginap di jepara sebelum atau sesudah mereka dari Karimun Jawa. Kami mendapatkan satu rumah warga disana yang disewakan 250.000 semalam. Harga yang sangat murah. Rumah tersebut memiliki 3 kamar tidur dan 1 kamar mandi. Halaman belakang yang bisa dipakai untuk nongkrong sama teman2. Tempat yang cukup pas bagi kami semua yang berjumlah 8 orang.

Setelah sarapan, sekitar jam 10 an siang kami menyewa sebuah boat untuk bermain ke Pulau Panjang, yaitu sebuah pulau kecil yang tidak jauh dari Pantai Kartini, sekitar setengah jam dari Pantai Kartini. Tidak banyak yang bias dilihat di pulai ini, Cuma ada pantai yang tidak terlalu panjang dan sebagia banyak ditutupi oleh karang. Tapi merupakan altenatif yang bagus untuk mengisi waktu kalua kalian harus menginap di Pantai Kartini.
Hari sabtu pagi tanggal 7 Maret 2015 kami akhirnya menaiki KMP Siginjai ke Karimun Jawa. Tiket dapat dibeli langsung di loket ASDP di pelabuhan. Perjalanan selama kurang lebih 5 jam akan kami tempuh. Harga tiket 50.000 untuk kelas ekonomi. Saya dan teman2 menempati ruangan ekonomi yang ternyata sudah dipenuhi oleh penumpang lainya. Akhirnya kita duduk di lantai membuka lapak sendiri. Kapal ini cukup bersih dilengkapi dengan TV dan toilet, sedangkan ruang eksekutif dengan AC. Ada tempat yang berjualan makan dan minuman juga. Perjalanan yang cukup lama kami isi dengan bermain card games dll. Itulah manfaatnya kalau travelling sama teman-teman. Kalau solo travelling pasti bosan juga selama diperjalanan.


Sore hari sekitar jam 4 kami sampai di Karimun Jawa. Kami langsung di jemput oleh istrinya Pak Anto dari Salami Homestay, tempat dimana kami akan menginap dan yang akan membawa kami island hoping selama di Karimun. Saya sudah menghubungi Pak Anto beberapa hari sebelum kedatangan. Salami homestay merupakan pilihan yang terbaik bagi kalian yang ingin berwisata ke Karimun Jawa, dengan biaya penginapan yang sangat murah 35 ribu/orang dan 150 ribu/orang untuk island hoping yang sudah termasuk makan siang, peralatan snorkeling dan kamera underwater.
Malam harinya, kami makan malam Alun – alun di dekat lapangan bola yang tidak jauh dari homestay, sepertinya cuma satu tempat ini yang menjadi pusat keramaian disini. Banyak orang yang berjualan makanan di kaki lima dengan harga yang murah. Jika ingin menikmati jajanan di alun-alun ini sebaiknya jam 19:00 WIB saja karena itu merupakan jam-jam ramai, dan pada jam 22:00 WIB semua dagangan hampir tutup semuanya. Jadi jangan terlalu malam.

Minggu, 8 Maret 2015, ini lah hari yang dinanti. Island hoping ke bagian barat kepulauan Karimun. Dipandu oleh 2 orang staff Salami Homestay yang akan membawa kami seharian menikmati keindahan Karimun berlayar dengan boat yang sudah menanti. Tujuan kami adalah lokasi snorkeling di dekat Pulau Cemara Besar. Setelah lebih satu jam berlayar, kami sampai di spot snorkeling luar biasa indah underwaternya. Berbagai jenis batu karang di dasarnya sangat indah, lautnya biru jernih ke hijau-hijauan serta jenis ikannya yang bervariasi berwarna warni. Ikan nemo atau jelly fish sangat menarik hati saya. Saya membawa roti tawar yang sudah di potong kecil untuk diberikan kepada para ikan agar mereka mendekat. Tidak terasa kami bersnokeling ria selama 2 jam lebih. Kemudian kami melanjutkan pelayaran ke Pulau Cemara kecil yang tidak terlalu jauh dari Cemara Besar untuk bermain di pantai dan makan siang. Pulau yang ini memiliki pasir pantai yang sangat putih dengan air laut yang biru. Kami makan siang dsisuguhi ikan bakar yang disiapkan oleh staff tour. Pantai yang putih, air laut yang biru, ikan bara yang nikmat. What a perfect combination.

Diperjalanan kami pulang, kami singgah di Pulau Menjangan Besar, di sebelah selatan Pulau Karimunjawa. Di pulau ini terdapat tempat penangkaran hiu. Ini adalah salah satu spot wisata andalan Karimun yang patut dikunjungi. Kolam ini menawarkan pengalaman wisata yang sangat luar biasa, yaitu berenang dengan sekelompok hiu (blacktip reef shark).

Hari kedua di Karimun, kami mengeksplor tempat-tempat menarik di dalam pulau karimun dengan sepeda motor. Tempat penyewaan sepeda motor tidak jauh dari homestay, daengan harga sewa 60 ribu/hari. Banyak tempat yang bias dikunjungi dengan motor di dalam pulau karimun sendiri, diantaranya: Hutan Mangrove, Pantai Tanjung gelam dan Bukit Love. Anda dapat bertanya ke warga setempat mengenai arahnya. Jalanan di pulau karimun sudah beraspal dengan baik semua.






Informasi penting sebelum anda ke Karimunjawa:
• Di Pulau Karimunjawa hanya terdapat ATM Bank Rakyat Indonesia (BRI) saja, jadi sebaiknya membawa uang yang cukup sebelum melakukan penyeberangan.
• Pastikan untuk menghemat baterai HP di siang hari, karena listrik hanya menyala antara pukul 17:30 hingga 06:00
• Ada alternatif internet super kencang (wifi.id)di dekat alun-alun Karimunjawa, tepatnya di Telkom
• Menurut masyarakat setempat, pengunjung akan membludak pada moment Hari Natal dan tahun baru, jadi pengunjung akan benar-benar sulit menikmati liburan disini
• Kapal terkadang tidak menyeberang karena ombak yang besar, antara bulan Februari hingga Maret. Sebaiknya sebelum ke Karmun anda menelepon terlebih dahulu ASDP jepara untuk memastikan jadwal kapal 0291 591048

Comments

Popular posts from this blog

Cantik Itu Luka: Sebuah Sindiran Sosial Berbalut Realisme Magis

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Penulis: Eka Kurniawan Cetakan pertama : 2004 (Telah diterbitkan sebelumnya oleh AKY Press pada 2002) Cetakan 19: 2016 Halaman: 479 Penghargaan: World Readers’ Award 2016 (Winner) Publishers Weekly’s Best Books of 2015 The New York Times’ 100 Notable Books of 2015 The Financial Times’ Best Books of 2015 Kirkus Review’s Best Fiction Books of 2015 Flavorwire’s The Best Fiction 2015 The Boston Globe’s The Best Books of 2015 Harper’s Bazaar’s 15 Best Books of 2015 Commonwealth Magazine’s Best Books of 2015
Novel ini merupakannovel debut Eka Kurniawan yang langsung melambungkan namanya dan masuk dalam sorotan kesusastraan dunia, terbukti dengan diberikannya penghargaan oleh World Readers Award 2016 di Hongkong, bersamaan dengan masuknnya Eka ke dalam daftar panjang (longlisted) The Man Booker International Prize 2016, sebuah penghargaan dunia sastra tingkat internasional yang bergengsi dan prestisius, setingkat di bawah Nobel, atas novelnya yang kedua, Lel…

Resensi Novel Divortiare

Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama
Penulis                 : Ika Natassa
Cetakan pertama : 2008
Halaman              : 328

Sinopsis
Divortiare dibuka dengan cerita Alexandra Rhea -tokoh sentral novel ini sebagai aku- yang merupakan wanita karir sebagai relationship manager sebuah bank ternama di Jakarta, Alex – begitu ia disapa- baru baru saja pulang dari business trip ke daerah mengunjungi lokasi bisnis salah nasabah perusahaannya.Dalam perjalannanya pulang ke apartemennya ia menelpon Beno Wicaksono, dokter pribadinya, yang juga adalah mantan suaminya sejak dua tahun yang lalu. Alex meminta Beno yang bertugas di sebuah rumah sakit datang ke tempatnya karena ia merasa tidak enak badan semenjak dari tugasnya ke daerah.

Kiat Sukses Memahami ‘Kiat Sukses Hancur Lebur’

"pada akhirnya, mau lele atau ayam atau tempe atau soto, semuanya sama saja: meledak di jamban." (Bab VI: Arahan Seputar Budi Daya Lele, h. 154)


Pada awal abad XX, ditengah berkecamuknya perang dunia I (1914-1918) di Eropa tumbuh suatu gerakan kebudayaan yang diprakarsai oleh para seniman dan budayawan guna menunjukkan sikap netralitas dan tak mau terlibat dalam suasana perang yang semakin berkecamuk dan mengerikan. Sebuah bar di swiss, Cabaret Voltaire, menjadi tempat berkumpul para budayawan dan seniman yang menggagas gerakan ini. Mereka menyebut gerakan yang mereka jalani dengan kata Dada, yang kemudian dikenal sebagai Dadaisme. Sikap perlawanan mereka bertujuan untuk tidak memihak atas seni dan budaya yang mulai dikotomis akibat perang karena kepentingan politik. Mereka tidak mau terikat dalam batas-batas apa yang diterima sebagai norma dalam suatu seni dan kebudayaan.Awalnya gerakan ini meliputi seni lukis dan visual, kemudian meluas ke ranah kebudayaan lainnya, yaitu sa…